Tampilkan postingan dengan label pariwisata indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pariwisata indonesia. Tampilkan semua postingan

Selasa, 25 Oktober 2011

babad ajibarang

Negeri Galuh Pakuan sedang dilanda cobaan berat. Musim kemarau yang berkepanjangan menimbulkan kesengsaraan rakyat. Wabah penyakit dan tindak kriminal meningkat. Sementara punggawa dan hulu balang belum mampu menghadapinya. Arya Munding Wilis yang menjadi Adipati kala itu memang sedang diuji. Belum selesai mengatasi kesulitan yang satu timbul masalah yang lain. dalam kesedihan menghadapi negeri yang sedang terancam itu, isterinya yang sedang hamil menginginkan daging kijang berwarna putih. demi cintanya kepada Sang Isteri, berangkatlah Sang Adipati Munding Wilis dengan Kuda Dawuk Ruyung kesayangannya. Hanya ditemani dua pengawalnya, berhari-hari Sang Adipati tak mengenal lelah dalam mencari buruannya itu. Namun sudah sampai sebulan belum juga nampak hasilnya.

Ketika mereka berburu kearah timur menyusuri Sungai Citandui sampailah Sang Adipati beserta dua pengawalnya di suatu grumbul. ternyata Adipati beserta dua pengawalnya itu sampai di sebuah perkampungan para brandal yang sering mengacau di seluruh kadipatennya. di Grumbul Gunung Mruyung tersebut sang adipati terpojok dan dirampok oleh dedengkot grumbul itu yaitu Abulawang. seluruh bawaan bahkan kuda sang Adipati dirampas dan sang dedengkot mengancam akan merampok dan menghancurkan kadipatennya. Adipati yang sedang kecewa karena tidak mendapat buruannya pulang dengan kesedihan yang lebi mendalam ke kadipatennya.

Peta Kecamatan Ajibarang

Sampainya di kadipaten, kesedihan sang Adipati terobati karena putera yang ditungu tungu sudah lahir kedunia. Semakin gembiralah ia setelah ditunjukkan adanya tanda hitam di lengan kiri bayi itu, yang konon merupakan "toh wisnu". Artinya bayi ini kelak akan menjadi seorang yang besar yang berbudi luhur dan bijaksana.

Ternyata kegembiraan di Kadipaten itu tak berlangsung lana. Pada malam keempat kelahiran sang jabang bayi. Perampok gerombolan dari gunung mruyung dedengkot abulawang bener bener datang dan menghancurkan Kadipaten. Prajurit dan pengawal tidak bisa melawan gerombolan tersebut. Semua barang dirampok dan Kadipaten dibakar.

Untunglah sang Adipati dan Gusti putri selamat. namun nasib bayi yang ditunggui oleh dua orang emban tidak demikian. bayi itu dibawa oleh salah seorang perampok ke Gunung Mruyung tempat markas mereka. Adipati dan gusti putri lemas, bahkan gusti putri pingsan.

Suatu Ketika, adipati Munding Wilis dan istrinya menyamar sebagai petani kecil, pergi meninggalkan Kadipaten. semula mereka bertekad ke gunung mruyung, tempat perkampungan para perampok pemberontak untuk mencari bayinya. Namun niatnya diurungkan karena terlalu bahaya, merekapun berjalan ke arah lain.

Bayi yang masih merah itu, sudah sampi di Gunung Mruyung. Bertahun tahun Bayi tersebut tumbuh menjadi pemuda gagah dan tampan, sifatnya baik berbeda dengan orang tua angkatnya yang perampok. pemuda itu dinamai Jaka Mruyung. Karena tidak senang dengan sikap dan tingkah laku orang tuanya makadia pergi meninggalkan Gunung Mruyung.

Jaka mRuyung
pergi dengan Kuda Dawuk Ruyung,yang dimiliki orang tua angkatnya, kuda tersebut sebenarnya adalah kuda milik ayah kandungya adipati Wilis. Jaka Mruyung tiba disuatu kampung di kawasan "Dayeuhluhur" dan bertemu seorang kakek. Ternyata kakek tersebut bukan kakek sembarangan. Dia adalah Ki Meranggi, seorang bekas prajurit sakti Kerajaan Majapahit dan kini menjadi seorang MRanggi (pembuat rangka keris). Jaka mruyung mengabdi di rumah Ki Meranggi, dan selama pengabdiannya dia banyak mendapat pengalaman yaitu baca, tulis, membuat keris dan ilmu keprajuritan serta kedigdayaan. semua ilmu dikuasainya dalam empat tahun. Pada tahun ke enam, Jaka Mruyung seolah mendapat Ilham agar meneruskan perjalan ke Timur, dan disana dia menermukan pohon pakis aji dan kelak hutan pakis aji tersbut ditebangi dan dijadikan negeri. Jaka mruyung pun pamit dan berpesan pada Ki Meranggi agar pedukuhan ini sepeninggalnya kelak diberi nama Dukuh Penulisan karena ditempat inilah dia belajar menulis.

Setelah menempuh perjlanan jauh, sampailah dia di perbatasan Kadipaten Kuta negara. Ditempat itu iapun melepas lelahnya. Sambil memuji Kebesaran TUhan ia menyaksikan keindahan lam sekitarnya. Si Dawuk Ruyung, kudanya yang sudah tua itu makan rumput sekenya-kenyanya. Jaka mruyung memandang rumput hijau itu bagaikan permadani yang Gumelar (digelar dalam bahas Jawa). Tempat itu kemudian nantinya disebut DUkuh Gumelar. Di tempat ini dia bertemu dengan pemuda dari Dukuh Cilangkap. Dari pemuda ini dia akhirnya tahu letak Hutan Pakis Haji yang ada dalam ilhamnya. Stelah dia melakukan prjalanan dan singgah sejenak di Dukuh Cilangkap, dia terus memburu keluar, ke Hutan Pakis Aji. Hutan tersebut ternyata berada di Selatan Kuta negara dan sebelah timur Dukuh Cilangkap.

Kiyé tek 'scan' sumberé, saka buku sing judulé: BANYUMAS WISATA DAN BUDAYA, karya: M. KODERI, cetakan 1991).


Sementara itu, perjalanan Adipati Munding Wilis dan istrinya yang menyamar menjadi Ki Sandi tiba di DUkuh Penulisan, Daerah Daeyuhluhur . Kebetulan keduanya singgah pula di rumah Ki Meranggi. Mereka bertukar pengalaman. Langkah gembiranya kedua tamu mendengar cerita Ki Meranggi, merka yakin yang diceritakan Ki MEranggi itu ciri-ciri anaknya( dengan Toh WIsnu di Tanggannya). mereka semakin gembira karena Ki Meranggi juga mengatakan kemana arah peginya anak mereka Jaka Mruyung. Semenjak Pergi dari Negerinya Galuh Pakuan, Adipati Wilis dan Istrinya memang selalu bedoa agar bisa dipertemukan dengan anaknya. Dan Memang sudah digariskan mereka berdua pun sampai di Dukuh Cilangkap dan bertemu dengan orang tua Tlangkas ,pemuda yang pernah memberikan petunjuk kepada Jaka Mruyung.

Ki Sandi alias Adipati Wilis pun tambah gembira karena harapanya semakin dekat terkabul. Sedang Jaka Mruyung kini sudah sampai di kaki bukit sebelah barat Hutan Pakis Aji. di sebelah situ ia terus ke Selatan dan menyebarangi Kali yang airnya Racak-racak, kali itu kemudian dinamai Kali Racak. dipinggir bukit itu ia melihat pohon yang berbuah sangat banyak, lalu ia bertanya pada orang yang lewat, Apa nama buah itu pak??orang itu malah menjawab dengn basa sunda, "Ie mah Gondangamis" artinya ini buah gondang yang manis. Kelak tempat itu menjadi Desa Gondangamis.

Dari situ dia terus menyusuri pinggiran hutan ke timur. ternyata tempat yang disinggahinya banyak dihuni burung Jalak. tempat Itu nantinya diberi nama Pejalakan. lalu dia sampai dibelokan kali datar, dia menemukan sebuah kedung, diatasnya banyak burung serwiti, Kedung itu kemudia di beri Nama Kedung Serwiti. setelah mengelilingi Hutan Pakis aji, sampailah dia dipinggiran utara, ia melihat orang-orang sedang membuat tambak ikan. Jaka Mruyung segera meminta Bantuan orang-irang untuk bersam-sama membabat hutan Pakis Aji. Kelak Dusun itu menjadi Dusun Tambakan.

Di tengah hutan muncul Ular Raksasa, namun berhasil dibunuh oleh Jaka Mruyung dan orang-orangnya dan dibakar. namun akibatnya hutan Pakis aji menjadi terbakar, kebakaran begitu hebatnya sehingga membuat resah kadipaten Kutanegara. Jaka Mruyung sang biang keladi pun ditangkap dan dihukum disekitar Kadipaten. Pada Masa hukumannya itu ternyata Jaka Mruyung yang tampan, sopan, baik hati di sukai oleh putri kedua sang Adipati yaitu Putri Pandanayu. setelah beberapa lama,Jaka Mruyung pun dibebaskan.

Kemudian dia mengikuti sayembara di Kadipaten Kutanegara tersebut. Sayembara itu untuk mencari Senopati Utama yang baru. Jaka mruyung ikut sayembara, dengan kesaktiannya dia memenangkan banyak pertarungan dan pada akhirnya dia harus melawan musuh terkuat yaitu Duta dari Kadipaten Kutaliman, bernaman Ki Kentol. Perseteruan antara Jaka Mruyung dan Ki Kentol Yang berlarut larut, nantinya menjadi momok yaitu siapa saja Pejabat yang datang ke Kutaliman pasti akan lengser. Jaka Mruyung yang memenangkan sayembara dijadikan Senopati Utama dan dinikahkan dengan putri kedua Adipati yaitu Pandanayu.

Berita tersebut ahirnya sampai ke Tlangkas dan orang tuanya. dan kemudian sampai ke telinga tamu mereka Ki Sandi yang tak lain adalah Adipati Munding Wilis ayah Jaka MRuyung., Raja atau Adipati Besar dari Galuh Pakuan. Adipati lalu membuka jati dirinya. dan menemui Adipati Kutanegara. Betapa senangnya Adipati Kuta negara, ternyata calon mantunya adalah anak Adipati Besar dari Galuh Pakuan.

Haru dan Bahagia pun berkecamuk diantara mereka. Acara Pernikahan segera dilakukan, namun di saat berlangsung nya pernikahan terjadi kehebohan. Hal ini kaerna putri pertama Adipati Kutanegara yaitu Dewi Pandansari minggat, karena malu telah dilangkahi. DIa bertapa disebuah kali, dia bertapa merendam, yang tentu saja tubuhnya yang indah itu tidak ditutupi oleh apapun. Tidak Heran Banyak Lelaki berdatangan ingin melihat i. Putri lalu berkata pada biyung embannya agar disampaikan ke ayahnya, supaya Kali tersebut dinamai Kali Luwih laki, yang kemudian berubah menjadi Kali Wilaki. Dewi Pandansaru, maaf Pandansari itupun meninggal dikali, dan dikuburkan disawah. Kuburan itu terkenal dengan sebutan Kuburan Pandansari.

Bertahun tahun dari kejadian itu, Adipati Kutanegara, Adipati Nglangak itupun semakin lanjut usia. Jaka mruyung pun menggantikannya dan diangkat sebagai adipati Kuta negara. Namun Jaka Mruyung yang tinggal di Kadipaten Kutanegara itu tidak Kerasan di kadipaten Kutanegara. Dia Menginginkan pindah, lalu dia pun teringat ilham yang diperolehnya saat dia muda. Dia kemudian pindah ke Hutan yang telah ia Babat yaitu Hutan Pakis Aji. Hutan yang kini menjadi Ibukota Kadipaten Kutanegara itupun lalu disebut AJIBARANG dan Kadipaten tersebut disebut Kadipaten AJIBARANG.

*****

Versi Lain nama AJIBARANG


Perjalanan Dari Mataram

Diawali dari mangkatnya Raden Mas Rangsang yang bergelar Panembahan Agung Senopati Ing Alaga Ngabdurrahman atau yang masyhur disebut dengan Sultan Agung Hanyakrakusuma pada tahun 1645, tepat enam tahun setelah berhasil menaklukan Blambangan tahun 1939. Sultan Agung telah berhasil melakukan ekspansi ke deluruh daerah di Jawa dan Madura (kecuali Banten dan Batavia) dan beberapa daerah luar Pulau Jawa, seperti ; Palembang, Jambi dan Banjarmasin. Mangkatnya Sultan Agung membuat sang putra mahkota Pangeran Arum didaulat untuk memimpin Mataram, dengan gelar Sunan Amangkurat I. Sejak kepemimpinannya, wilayah Mataram berangsur-angsur menyempit karena aneksasi yang dilakukan oleh Belanda. Perpecahan tersebut disamping atas peran Belanda, juga akibat adanya kegusaran masyarakat atas ekspansi yang dilakukan oleh Mataram yang menjelang mangkatnya Sultan Agung. Pemberontakan-pemberontakan terhadap kekuasaan raja banyak dilakukan, antara lain dari ; keturunan Sunan Tembayat, keturunan Kadilangu, Wangsa Kajoran, keturunan Panembahan Rama dan Panembahan Giri.

Atas gencarnya aksi pemberontakan tersebut, mengakibatkan posisi Sunan Amangkurat I terpojok (yang dalam versi ini diindikasikan menjalin kerjasama dengan VOC - Verenidge Indische Oast Compagnie, sebuah organisasi monopoli perdagangan milik Belanda di Batavia) sehingga ia berinisiatif untuk menyelamatkan diri dan hendak meminta bala bantuan kepada Gubernur Jenderal De Cock.


Penamaan Ajibarang

Perjalanan Sunan Amangkurat I dikawal para prajurit keratin dengan mengambil route perjalanan Kedu-Banyumas-Tegal untuk kemudian singgah di Kadipaten Carbon atau Caruban atau Cirebon. Singkat cerita, sesampainya di suatu daerah barat Banyumas, Rombongan Gusti Sunan kehabisan perbekalan. Kemasygulannya bertambah setelah ia harus menerima kenyataan bahwa ia harus kehilangan puluhan prajuritnya yang ma ti akibat jarak tempuh perjalanan secara infanteri dengan medan yang berat dan sangat jauh.

Di daerah tersebut, abdi setia Sunan Amangkurat I, bernama Kyai Pancurawis yang juga bertindak sebagai sais kereta kencananya, kemudian berusaha menjual barang-barang bawaan yang masih tersisa demi untuk kemudian ditukar atau dibelikan kembali dengan bahan-bahan makanan pokok sebagai perbekalan untuk meneruskan perjalanan yang masih jauh. Usaha Kyai Pancurawis beserta para Ponggawanya ternyata berhasil. Baik barang yang memiliki nilai jual tinggi ataupun rendah semuanya terjual dan tertukar habis sehingga berhasil mendapatkan perbekalan yang dikehendaki.
Bukan main senangn ya hati Gusti Sunan melihat usaha abdi-abdinya. Sebagai wujud rasa syukurnya, ia menamakan daerah tersebut dengan AJIBARANG, yang berarti barang apapun yang dijual didaerah tersebut “ana ajine” atau ada harganya.

jenang jaket asal AJIBARANG merambah AMERIKA

JENANG makanan yang terbuat dari beras ketan dan gula jawa asal Banyumas, Jawa Tengah, boleh dibilang sedang mengalami masa jaya. Selain dengan bahan asli tanpa formalin, jenang ini memiliki rasa yang khas dan cita rasa tinggi.
Terdapat sekitar 35 perajin jenang di Kampung Munggangsari, Desa Pandansari, Kecamatan Ajibarang, Banyumas. Desa yang dikenal dengan sebutan Kampung Jenang Jaket ini menjadi sentra produksi jenang di Banyumas sejak tahun 1970-an.



Makanan ini disebut jenang jaket kepanjangan dari jenang asli ketan. Karena bahan bakunya asli dari beras ketan serta gula merah. Mereka sama sekali tidak mau mencampur bahan jenang tersebut dengan beras biasa. Bahkan, bahan pemanis gula diambil langsung dari penderes atau perajin gula nira di desa ini.
Tak heran jika jenang jaket ini memiliki rasa yang khas. Selain empuk dan rasa manisnya yang pas, jenang ini berorama wangi manggar atau kembang kelapa. Seperti jenang jaket milik Darsim, warga Munggang Sari, Ajibarang ini.



Sekali produksi menghasilkan tiga ton jenang dan menghabiskan 7 kuintal gula, 4 kuintal beras ketan dan 200 butir kelapa. Tiga hari sekali, Darsim mengirim 3 ton jenang jaket ini ke berbagai daerah termasuk ke Malaysia dan Amerika.
Semula jenang jaket ini hanya beredar di pasaran lokal seperti Brebes – Tegal, Jakarta dan Lampung. Namun kini sudah merambah ke luar negeri seperti Malaysia bahkan Amerika.



Harga jenang ini relatif terjangkau. Untuk satu plastik kecil hanya Rp 7000, sementara satu paket kardus seharga Rp 114 ribu.
“Alhamdulillah jenang kami bisa perlahan lahan merangkak hingga tembus ke Amerika. Ini karena kami menerapkan sistem menjaga kualitas,” ujar Darsiman, salah seorang produsen jenang jaket.

kota lama Banyumas

Kota Lama Banyumas menyimpan keunikan tersendiri yang tidak dimiliki oleh kota lain.

Alun-alun Banyumas

Di wilayah ini berkembang tiga kultur yang berbeda, yakni kultur priyayi, kultur wong cilik, dan kultur Indisch. Kultur priyayi berkembang di pusat pemerintahan Kadipaten Banyumas masa lalu (sebelum pindah ke Purwokerto) yang menyisakan peninggalan artefak sejarah berupa kompleks Pendopo Duplikat Si Panji Banyumas beserta bangunan-bangunan kuno yang terdapat di sekitarnya.


Masjid Agung Sulaiman Banyumas


Kultur wong cilik sebagai arus utama dalam kehidupan masyarakat Banyumas dapat dijumpai di dalam komunitas masyarakat yang terdapat di luar tembok Kadipaten dan masih lestari hingga sekarang. Sedangkan kultur Indisch merupakan kultur yang berkembang pada masa penjajahan Belanda yang menyisakan artefak bangunan kuno yang bercorak Indisch yang dalam persebarannya hidup berdampingan dengan kehidupan kaum priyayi, wong cilik dan masyarakat Cina Keturunan (Tiong Hoa).

Jika dilihat dari aktivitas sosial, keberadaan ketiga kultur ini dapat dilihat pada tiga komponen penting, yaitu pemerintahan, kehidupan sehari-hari masyarakat, dan perdagangan. Aktivitas pemerintahan berupa Kadipaten (bukan Kabupaten) yang bercirikan adanya kekuasaan Adipati yang memiliki angkatan perang. Dalam sejarahnya, pemerintahan di Kadipaten Banyumas mulai berkembang sejak Kasultanan Pajang, yang berlangsung terus hingga masa kekuasaan Mataram maupun Surakarta Hadiningrat dan Ngayogyakarta Hadiningrat.


Pendopo si Panji di kota lama Banyumas


Kehidupan sehari-hari masyarakat Banyumas yang dimaksud di sini adalah sebuah perjalanan kultural yang bersumber dari pola kehidupan tradisional-agraris. Nilai-nilai yang berkembang adalah nilai kerakyatan yang bercorak egaliter, sederhana, terbuka (exposure), dan cablaka (tranparency). Adapun aktivitas perdagangan ditandai dengan keberadaan pasar tradisional yang terdapat di sisi utara Kota Banyumas sekarang. Kegiatan perdagangan di Kota Lama Banyumas tidak lepas dari kebijakan pemerintah Hindia Belanda bersama pemerintah Kadipaten Banyumas yang melibatkan etnis Tiong Hoa sebagai salah satu bagian terpenting di dalamnya. Kondisi tersebut masih terus berlangsung hingga sekarang.

baturaden

Selain memiliki bahasa yang khas, Purwokerto yang berjarak sekitar 200km sebelah barat Yogyakarta juga punya tempat wisata yang layak dikunjungi. Yaitu kawasan wisata Batu Raden. Tuk bisa kesanapun tidaklah sulit. cukup cari kendaraan umum jurusan Purwokerto-Baturaden dari terminal Kebondalem kalian udh bs refreshing ke baturaden.
Image Hosted by ImageShack.us
Kebun Raya Batu Raden terletak di selatan kaki Gunung Slamet dengan ketinggian 640m di atas permukaan laut dan berjarak 14 km dari pusat kota Purwokerto. Gunung Slamet sendiri merupakan gunung berapi terbesar dan tertinggi ke-2 di Pulo Jawa. karena keberadaannya di kaki gunung, maka tak pelak jika di tempat ini kita dapat merasakan suhu yang sangat bersahabat alias sejuk. Kawasan batu raden juga memiliki potensi flora dan fauna yang memiliki nilai konservasi tinggi dan beberapa diantaranya bahkan dilindungi oleh UU sepert macan tutul dan kera abu2 ekor panjang.

Menurut suatu sumber, di tempat ini kita bisa menemui beberapa air terjun diantaranya Pancuran 3 (Telu) yang mengalirkan air panas bersulfur, Pancuran 7 (Pitu) yang berjarak sekitar 2.5km dari kawasan baturaden, Goa Sarabada yang berada dekat pancuran 7, Telaga Sunyi yang berjarak sekitar 3 km timur baturaden, Curug Cipendok yang memiliki ketinggian 92 meter, Curug Ceheng, Pemandian Kali Bacin yang merupakan salah satu tempat peninggalan belanda, serta Museum BRI yang didirikan pada tahun 1895. (sayangnya, kesemua tempat itu belum sempat gw kunjungi).
Yg gw foto itu namanya Air Terjun Gumawang. Di curug yang tingginya mencapai 25m ini banyak anak2 yang rela terjun bebas dengan bayaran sekitar Rp 3 ribu sekali lompatan. kl diliat sepintas, batu yang mengapit air terjun itu mengingatkan gw pada foto2 bayi yang sering berpose telungkup tanpa busana, hehehe :)
Gw berkesempatan maen ke baturaden lebaran dua tahun lalu ketika bermalam dipurwokerto sebelum melanjutkan perjalanan mudik ke jogja. Tahun ini nyaris kita kesana lagi. Alhamdulillah, kita ga jadi kesana, karena pada hari yang sama saat kita sempat berpikiran tuk ke baturaden, tempat ini dilanda musibah. Tanggal 25 Oktober 2006, jembatan gantung dengan panjang 25 meter dan berada pada ketinggian 20 meter di atas permukaan sungai Gumawang ambrol. jembatan yang sudah berumur 23 tahun tidak lagi kuat menahan bobot lebih dari 50 orang pengunjung yang saat itu tengah berliburan satu hari setelah lebaran. menurut berita yang dikeluarkan menkokesra tanggal 27 oktober 2006, tercatat 8 orang meninggal dunia akibat terjatuh dan tenggelam di sungai.
Image Hosted by ImageShack.us

pualu derawan,,pulau so sweetz

Pulau Derawan terletak di Kepulauan Derawan, Kecamatan Derawan, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur Satuan morfologi Pulau Derawan adalah dataran pantai bertopografi datar. Pantai pasir memiliki kemiringan lereng sekitar 7° - 11° dengan lebar 13,5 - 20 meter.

Di perairan sekitarnya terdapat taman laut dan terkenal sebagai wisata selam (diving) dengan kedalaman sekitar lima meter. Terdapat beraneka ragam biota laut di sini, diantaranya cumi-cumi (cuttlefish), lobster, ikan pipa (ghostpipe fish), gurita (bluering octopus), nudibranchs, kuda laut (seahorses), belut pita (ribbon eels) dan ikan skorpion (scorpionfishes).
Pada batu karang di kedalaman sepuluh meter, terdapat karang yang dikenal sebagai "Blue Trigger Wall" karena pada karang dengan panjang 18 meter tersebut banyak terdapat ikan trigger.Pulau Derawan.

Sebuah pulau dengan permukaan air laut berwarna gradasi biru dan hijau yang memukau, hamparan pasir nan lembut, barisan pohon kelapa di pesisir pantai, dengan hutan kecil di tengah-tengah pulau yang merupakan habitat dari bermacam jenis tumbuhan dan hewan serta keindahan alam bawah laut yang mempesona. Tidak heran apabila pulau ini bisa menempati urutan ketiga teratas sebagai tempat tujuan menyelam bertaraf dunia dan menjadikan pulau ini sebagai pulau impian bagi para penyelam.

Sangatlah mudah untuk mencapai pulau cantik ini. Anda bisa langsung terbang selama kurang lebih 3 jam menuju Balikpapan dengan menggunakan pesawat dari Jakarta, Surabaya, Yogyakarta atau Denpasar. Dari Balikpapan, Anda masih harus terbang menuju Tanjung Redeb selam satu jam dengan menaiki pesawat KAL Star, Deraya atau DAS. Selain itu, Tanjung Redeb juga bisa dicapai melalui laut, dengan menaiki kapal dari Samarinda atau Tarakan ke Tanjung Redeb dilanjutkan dengan menyewa motorboat.
Wisata Indonesia Surga Dunia